Rabu, 03 Oktober 2007

Sedikit Tentang Rokok

Rokok adalah sebuah fenomena, kenapa demikian, di Indonesia yang iklimnya tropis dan banyak pula daerah pegunungan yang hawanya dingin, akan mendorong penduduknya untuk menikmati rokok, baik rokok yang bikinan pabrik ataupun yang bikinan sendiri, yang katanya bagi sebagian orang tak kalah nikmatnya dengan rokok pabrik, asal pilihan tembakaunya tepat dan cara meramunya juga tepat.

Sebuah pengalaman pribadi, penulis kenal yang namanya rokok mulai kira2 saat SMA.
Bagi pembaca tentunya tahu masa2 itu emang sering mendorong untuk melakukan hal2 yang oleh orang dewasa lakukan. Awalnya ya biasalah curi2 punya orang tua, eee.......... lama2 ketagihan, hingga sebagian uang sekolah kita pakai untuk beli sebatang rokok dan nggak enaknya pabila kita nggak punya uang untuk beli sebatang rokok ya........terpaksa kita minta2.

Tahun bertambah tahun, hingga penulis telah mendapatkan pekerjaan dan tentunya telah mendapatkan gaji walaupun kadang masih pas-pasan.  Dengan pakai gaji sendiri, membuat penulis semakin meningkat merokoknya, diawali dengan rokok pabrik lokal hingga rokok impor, dan pernah penulis dibeliin rokok dengan harga Rp. 25,000 sebungkusnya, nilai yang cukup tinggi dibanding dengan rokok lokal yang waktu itu masih sekitar Rp. 4.000.

Hingga pada suatu waktu ....................
Ada sebagian ulama yang menyatakan "haram" terhadap rokok ini.
Bagi penulis hukum "haram" rasanya tidak pas dan tidak ada dalil yang pasti yang menyatakan haramnya rokok.

Ada juga dari pihak kesehatan yang menyatakan bahwa rokok dapat merugikan kesehatan, misalnya dapa menyebabkan kanker, jantung, gangguan kehamilan dan lain2.

Sejenak penulis berpikir,
Apabila akibat yang ditimbulkan seperti itu, kenapa penulis sendiri masih senang merokok?

Suatu waktu penulis sempat dikagetkan dengan hasil dari diagnosa dokter yang menyatakan anak pertama dari penulis terkena flek paru dan harus diobati dengan intensif.

Walaupun demikian kebiasaan merokok penulis tetap terus, hingga anak kedua penulis meninggal pada usia bayi dan menurut diagnosa dokter ada kelainan pada paru2nya, begitu juga anak ketiga penulis juga sakit yang sama, yaitu flek paru2 dan juga harus diobati dengan intensif.

Suatu malam sempat penulis merasakan nyeri pada dadanya begitu juga maagnya selalu kambuh, karena kebiasaan seorang perokok harus dengan ngopi. Nah kapi katanya dapat memicu naiknya asam lambung?
Baru kali ini penulis mikir, akan akibat yang mungkin ditimbulkan dari kebiasaan merokok.

Pada suatu waktu menjelang ramadhan, tepatnya 2 tahun yang lalu, penulis menimang-nimang rokok yang akan diisap, terakhir kali ingat rokok itu bernama "Esse", walaupun bentuknya kecil tapi rasanya emang nikmat.

Dalam benak penulis harus dihentikan kebiasaan ini, dan benar2 terjadi, penulis udah 2 tahun lebih merasakan nikmatnya tidak merokok, walaupun suatu ketika masih kepengin untuk menikmatinya. Hampir membuat tak percaya, istri penulis, akan hal itu.

Dengan tidak merokok, banyak manfaat yang penulis petik, misalnya mulut tidak bau rokok,



Apa hal itu membuat jera penulis, ternyata tidak....

Akan diteruskan....................

Tidak ada komentar: